laman

KUMPULAN PUISI DAN SAJAK ERLANGGA BAYU SEGARA
KUMPULAN PUISI DAN SAJAK ERLANGGA BAYU SEGARA

Minggu, 24 Agustus 2014

KEPERGIAN MU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

hening ini masih lekat. .
Bercengkrama dengan sepatah duka..
Kinanti ku tiada titian melagu. .
Atau sekedar denting dawai kecapi. .
Hanya sajak mematah di ruas malam. .
Terkapar pilu di ruang kelam berjelaga. .
_ah. . Ku kuas lagi malam renta penuh iba. .
Bersinyalir di tepi perigi sunyi. .
Pijakan ku retak arah. .
Terbenam di antara puing-puing masa silam. .

Gulita_. .
Tika ku gapai jemari mu yang ter ulur di rahim waktu. .
Tiada sempat ku dekap lagu mu. .
Hanya hening dalam gigil beku_
_ tika engkau ku relakan pergi berlalu..


         **____**

AKU PERGI

 

 

 

 

 

 

 

Terima kasih masa lalu. .
Dan terbanglah dari persinggahan hati ini. .
Kan ku lepas semua ikatan yang mungkin membelenggu_

Terima kasih untuk kasih yang pernah terjaga. .
Maaf kan lah untuk semua luka yang pernah singgah. . .
Mungkin cerita kita tak pantas ada_

Biarlah ku lalui jalan sepi tanpa mu lagi.. .
Kan ku jelang hari-hari tanpa kasih dan mimpi. .
Tempuh lah jalan hidup mu yang baru kekasih. .
Rela kan lah kepergian ku hari ini. .
Melepas mimpi-mimpi_
**

LUKISAN WAKTU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lukisan mu tiada sempat memapah ku..
Bah kan tika semerbak mu penuhi ruang ku. .
Kelebat mu hanya mampu singgahi renung ku. .
Pendari aku dari hitungan waktu yang membisu. .
--
Coba lihat jejak itu yg pernah kau gores. .
Masih sempat sisa kan setetes luka. .
Coba raba detak waktu yang mengalun pilu. .
Masih erat ku cumbui dengan rindu tabu. .
Tiada mampu ku mengulang jejak itu. .
Jejak kita di mana banyak ter simpan luka. .
Walau musim tlah berlalu di cumbu waktu.. .
Aku tetap bisu dalam gigil beku. .
Hanya kata yang terdampar di cakrawala aksara. .
Media rasa yang ku punya_.. .

* *

MENCARI MU DI BENING EMBUN


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ter akhir. .
Bayang me ngambang..
Lara ku me lambang. .

Lelah sapa. .
Tiada jua balas. .
-
Aku kikis hari-hari di penat menanti. .
Semerbak mu meluruh tiada sempat ku hela. .
Nurani merintih. .
Engkau tetap menyikapi dalam beku. .
Tiada sya'ir. .
Tiada jua tembang kinanti. .
-
Sudah lah. .
Aku pun ter biasa dengan lara. .
Yah..

Engkau terus lah mencaci jejak. .

                                                                                                                           * JK 451 H

BATAS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku mencintai langit. .
Tapi aku tidak bisa menjadi angkasa. .
Aku mencintai gunung. .
Tapi aku tidak bisa menjadi lembah. .
Aku mencintai sungai. .
Tapi aku tidak bisa menjadi riak. .
Aku mencintai laut. .
Tapi aku tidak bisa menjadi pantai. .
Dan. .
Aku mencintai mu. .
Tetapi aku. .
Tidak bisa menjadi sempurna seperti yang kau ingin kan.

Bahkan sang nabi yang mencintai umat nya. .
Tidak bisa menjadi mempelai dalam setiap pernikahan umat nya..

                                                              

                                                     * edisi: keterbatasan manusia *

 

PERJUANGAN

 

 

 

 

 

 

 

 

Se onggok raga timpang ter abai
Melangkah resah melewati tebing-tebing haus darah

Menapaki nurani yang tlah Basi...
Mencabik raga jadi serpih-serpih prahara

Kelakar ku sirna di telan jerit pendosa
Membelit langkah di tapak-tapak pencarian
Mengembara di laut kemunafikan
Meniti perih di sudut-sudut ilusi.....

Ku coba merangkak di tebing sunyi hidup ini
Tuk meraih senoktah asa di celah lembah petaka
Walau raga berai ter cabik...
Namun nurani mengikat juang agar langkah terus meniti
Telusuri kepak camar merangkai bebatuan
Di sayap kelelawar yang membentang pekat jelaga

Gontai meraba langkah di kegelapan
Terus mencari seberkas sinar di lorong kehidupan
entah.....Sampai kapan....

**

TANGIS MU

 

Sepenggal sajak hilang di kesunyian..
Bisikan nya mewarta di panji-panji langit. .
Setapak kata yang terdampar di cakrawala aksara. .

Terbuang sia-sia. .
Di cemo'oh angin tengara...

Ku rajut bintang sisa-sisa malam. .
Meratapi sunyi. .
Tangisan mu tiada sempat ku maknai. .
Terlanjur ku puja air mata..
Smoga rela bila ku usap dengan nafas ku. .

Kasih. . .

Karna hadir ku. .

Untuk ada dan tiada mu.. 

**

RELA

 

 

 

 

 

 

 

 

ada sepenggal luka di sini. .
Ada se onggok nyeri menemani. .
Tiada mampu dendangan ku mengajak mu menari. .
Kecapi ku tanpa dawai patah sepenggal sya'ir. .
Aku menggapai mu. . .
Kau tepis dengan luka-luka. .

Aku rela. . .
Pijakan tanpa muara. . .
Walau tak sempurna. .
Ku harap ada makna. . .

 

                                                   * pagi yang menua, di tepi telaga, panjalu *

JEJAK BISU

 

 

 

 

 

 

 


 

Dan malam kian serat di gulita nya. .
Ikat aku pada pusara masa. .
Kian remah pada biak luka. .
Kau suguhi dari kisah silam _

-ah engkau serupa sembilu. .
Membias di jejak lalu kisah bisu. .
Hanya isak yang tersisa utuh. .
Air mata berderai luruh.. _

Maaf kan aku kekasih. .Jika masih ku simpan perih. .
_ karna nama mu masih di sini. .
* ku cium gerhana malam ini..
Di tepi memory *

BURAM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

wahai ilalang tua. .
Hamparan mu me ngombak rasa. .
Cerita kan mimpi-mimpi belalang malam. .
Yang kerap mengusir embun dengan tendangan. .
Cukup lah selimut bayu malam lalu. .
Mewakili puisi ku yg di patah serunai. .
Sebab mega masih erat dekap rembulan. .
Redupi raut malam sisa cerita unggas senja. .

Sepotong ranting di patah burung hantu. .
Mengusik bening wajah telaga di tepi rasa. .
Aku segera menepi dari dahaga. .
Agar embun mu tak ku reguk pagi nanti. .
Lalu. .
Terus lah malam mengolah naskah. . 

**

MENANTI PAGI


 

 

 

 

 

 

 

 

Ketika sepenggal mimpi ku patah...
Ku setubuhi waktu di keranda malam....
Dan sa'at menjelang fajar tiba..
Ku hitung embun di pucuk dedaun..
Bisu...
Di mana kah kicau pipit yg biasa mengusik hening...
Di mana kah bisik bayu yang biasa membelai kalbu..

Ahh.....
Mentari tlah merangkak di batas lazuardi...

Ada senyum mu menggantung di mega perak..
Ada asa di sini....
Ku tuang di tempurung waktu...
Karna aku hanya mampu merajut senja...
Menanti mu di batas bianglala....

Hanya itu....
Karna tuk memeluk mu aku tak mampu.....

**

MENUNGGU TANPA RINDU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Maka menepi lah dari rindu.
Ketika waktu menggores tanpa senyum.
Karna seperti biasa, hening itu serupa sembilu.

Lalu coba teruslah melangkah.
Walau gontai mu tanpa papah.
Aku menunggu tanpa rindu di batas ikrar.
Namun setia.......

Sebatas halaman mimpi di tepi altar.
Mantra mu ter lantar..
_ maka tumpu lah lutut mu yang mulai gemetar.
Dengan se biduk keyakinan mu tanpa gentar.

Segera lah melangkah tanpa rindu.
_Karna rindu hanya jadi sembilu.
Yang kian membuat mu rapuh.

Aku menunggu di batas waktu..
Bisu...
¤_______________________________¤

BELUKAR TANPA DOSA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masih ingat kah engkau,,??
Pada elegi yang kau sebut "belukar tanpa dosa"..?
Aku masih membawa nya dalam kenangan..

Apa kah engkau telah mengikat nya pada tonggak masa lalu mu..?
Atau engkau telah menulis nya pada prasasti yang kini kau lupai..??
Lalu miliik siapa naskah yang kau robek di persimpangan..??
Bukan kah kita telah melakoni nya setengah kisah,,??
Aahhh....
Bisu kita telah mengubur serpihan-serpihan itu..
Sehingga kita saling melangkah tanpa warta..


                                             ** DESEMBER TANPA MIMPI **                              

CINTA TABU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pagi ku bermuara embun..
Berselimut pekat awan nan teduh...
Membawa ku pada gigil di pucuk daun..
Yang di cumbu noktah embun..

Aahh gerimis merinai menjenguk pagi..
Menyerang embun di pucuk daun..
Meluruh..
Serupa rasa ku yang jatuh di telaga hati mu..

Jangan kau pungut bila ada sepenggal cinta ku luruh di situ..
Karna itu cinta tabu...
Biar kan lah menggelinding pada jejak-jejak hampa...
Dan terdampar di ruang sepi tampa nama...

Aku enggan memberi mu mimpi..
Sementara kemaren kita pernah sama-sama bermimpi..
Lalu pudar sa'at kita terbangun di tengah kenyata'an...

Lalu kita sama-sama merobek naskah...
Menyalah kan kisah..
Sementara tangisan mu pecah..
Aku hanya mampu memeluk mu dalam resah...

**

EPISODE KEHILANGAN

















Hanya gambar mu yang tersisa...
Dari sekian banyak artefak tentang kita..
Hanya sisa senyum mu melengkapi sunyi ruang ku..

Sehelai gambar di meja kamar..
Dalam bisu puisi biru..
Sisa tangis mu malam lalu..
Merajut jerit yang kau pintal dalam nyeri..
Berselimut sisa janji ter inkari..

Pelangi mu telah patah di bibir mungil nan indah..
Air mata serupa embun meluruh pilu..
Aku tahu batin mu luka karna kisah tak sempurna..
Seperti juga rasa ku yang tercabik memoranda..
Sesungguh nya kita sama dalam luka...

Tabah lah adinda...
Peninggalan kisah kita nyata..
Kan ku urai dalam bias bianglala..
Agar tuhan menjawab teka-teki takdir kita..
Hingga kita mendapat jawaban..
Jalan mana untuk kita lalui bersama.. 

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

ADA KU UNTUK MU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dan ku lihat serupa pagi yang basah..

Derai mu dalam dalam dekapan kalbu ku..

Aku memuja mu..

Dari setiap tetes air mata mu..

Hingga kelakar dan derai tawa mu..

Hingga setiap hela nafas adalah do'a untuk mu..

Setiap nadi mengaliri kasih mu..

Degup jantung mendetak kan nama mu..

Seluruh cinta ku untuk ada dan tiada mu..

Jangan lah risau..

Akan aku yang menghawatir kan mu..

Lautan do'a ku untuk mu..

Pada setiap kedipan mata ku..


¤. .¤

JK 451 H

 

 

 

 

 

 

 

 

Celoteh ku senja lalu..
Hanya tembang-tembang rindu..
Terbingkai lagu cemburu..

Puisi ku telah patah di petik gerimis..
Sesekali di kupas lembayung tipis..
Ter ukir nama mu dalam lembaran tangis..
Di lukis pantai lewat nyanyian belibis..

Tiada maksud ku penjara rindu..
Hanya nama mu enggan beranjak dari kalbu..
Ma'af jika aku tiada mampu lupa kan mu..
Hingga senyum mu membingkai ku di rahim waktu..

Tak kah kau tahu.....??
Bahwa aku masih yang dulu...

Tak kah kau mengerti ....???
Rindu ini suci...
Serupa tirta dari bening netra mu yang pernah bergulir..
Meluruh di batin mu yang masih pagi...

Tak kah kau mengerti....??
Aku masih di sini...
Di sudut senja yang mulai menepi..

 *

 

PAMIT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku pamit..

Mohon diri sementara waktu pada gelembung karang yang memecah kesunyian..
Tuk bertapa pada awan di tepi rembulan..
Bila suatu hari aku rindu kidung perigi..
Kan ku urai sajak pagi pada embun yang ber tahta di pucuk dedaun semi..

Permisi..

Aku pergi me ngeja waktu di belantara sunyi..

Mengupas senja pada lembayung saga..
Tuk membaca serat malam bila titian nya tiba..

Akan ada satu nama di penghujung gulita nya..
Sa'at mimpi ter selsai kan di paruh masa yang meluka..
Dan aku akan terbiasa..
Dengan segala rona...

¤

                                                                  

ENGKAU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku jauh menuju belantara waktu..
Di seantero malam yang tak cipta rembulan..
Lelah mengupas gulita..
Di se ujung nafas yang mengebiri waktu..
Sepatah mantra..
Tergulir dalam cekat kata..
Ah.. Tiada makna..
Lalu apa yang di kandung masa depan..
Jika setiap hela nafas hanya menelor kan masa lalu..
Engkau..
Masih saja menginvasi benak labil ku..
Melahir kan kenangan lalu..

KASIH TAK SAMPAI

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketika petang mengebiri senja..
lembayung saga memangsa sisa mentari..
Ketika camar beranjak pulang dari pesta senja merah..
Se iring tarian ombak mencumbui bibir pantai..
Aku me ngeja waktu pada catatan lalu..
Sambil melukis sisa senyum mu di
Antara jejak pilu..

Masih jelas ter ngiang syahdu ucap mu..
Berceloteh tentang senja yang kau bilang milik kita..
Lalu engkau merengkuh nya dalam genggam pengharapan..
Dan kau simpan di lubuk cinta ku yang terdalam..
Karna engkau meyakini mimpi kita..
Ber ba'it pada sajak-sajak senja..

Lalu...
Mimpi mu bisu...
Kita pun bisu...
Cerita pun berlalu dengan pilu..

Hati kita rapuh...
Air mata jadi tempat ber labuh..
Setiap jengkal langkah kita hanya isak..
Melengkapi naskah senja yang hilang..
Engkau ter siksa...
Aku pun ter luka...

LARA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku telah tiba..
Dari sekian langkah lelah yang meluka..
Selanjut nya aku di sini..
Menyunting sunyi yang semakin nyeri..
Dalam riak ke luka'an tanpa batas..
Menenggelam pada letih tak ber tepi..
Aku menangis..
Di balik rindu yang perih...

Coba tengok naskah kita di sudut senja..
Sempat ter abai tanpa tarian belibis senja..
Lalu baca prasasti yang kau tulis di kokoh nya karang..
Coretan nya tiada mampu menguak rindu mu yang sempat hilang..

Gulita ku merenungi mimpi-mimpi..
Dalam sunyi yang me ngelam tiada tepi..
Alunan nya serupa kidung kematian...
Mengeranda dalam jiwa yang Kerontang..
Ber penghuni lara....

Ahh....
Aku menikmatinya....
Alunan sepi...
Kidung senja...
Cerita lara....
Santapan sahur yang sempurna

 

                                                                          *RAMADHAN YANG BISU*

GERIMIS AGUSTUS

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini kah kisah malam yang kau buang di palung senja...
Ketika gerimis ber tirai lembayung saga..
Dan awan ciptakan gulita sebelum waktu nya...
Serupa nelangsa...
Sapa ku ber tumpu pada dedaun tua yang luruh ter kapar..
Bersama bening rintik
gerimis tipis...

Sekilas ayu mu membayang pada tarian belibis putih..
Dalam remang kerinduan yang ku titip pada temaram senja..
Pada gapai jemari yang tak sampai..
Pada sunyi yang di kecup bibir waktu..
Dalam hampa yang lekat menjerat...
Hilang titian...

Di remang senja..
Ber selimut gerimis tipis..
Aku memapah separuh kenangan..
Tentang malam yang kau buang di palung senja..
Bersama sekelumit rindu ku...
Dan bayang mu yang perlahan menjauh....
Sisakan samar ayu mu..
Dalam benak nelangsa ku...

CATATAN LELAKI BER TATO

Ini aku...

Pemilik malam yang pernah mengupas senja..
Sedikit luka setelah bertarung dengan cinta...
Berjuang melepas kan belenggu nya..

Ini aku...

Pengembara yang ter dampar di reruntuhan kisah..
Ber cengkrama dengan bilur merah perjalanan...

Ini aku...
Yang ter asing di ranting kering padang tandus...
Memetik mimpi pada mozaik yang poranda..
Sesekali memapah mega di tepi rembulan..
Lalu jatuh di tebing curam kehidupan..

Inilah aku...
Yang kian rapuh menapak retak titian....
Gontai langkah mendayung biduk perjuangan..
Menepi di sepucuk daun renta..
Menanti pagi sisakan tetes embun nirmala....
Lelah.....
Terkapar di talam nelangsa..
Ber selimut do'a usang yang sama.....

 

SEPENGGAL KISAH USANG

 

 

 

 

 

 

 

Gemintang sunyi...
Telah menunggu di kelopak malam..
Meratapi dedaun yang di cumbu semilir bayu...
Bertahta pada cerita yang makin renta...
Ahh engkau telah mamulai nya..
Ketika gugur daun tua di gigir telaga...

Tentang naskah yang ter berai di sudut kenangan...
Tak semesti nya engkau urai pada cerita malam...

Telah usang rindu itu yang runtuh memilu...
Menenggelam pada sajak-sajak malam..
Biarkan lah masa lalu jadi serakan puing kenangan..
Kita tak perlu terjerumus dalam sesal memanjang..
Kesah mu pada hunian cerita malam...
Adalah jenjang keluka'an yang dalam...
Biarkan lah.....
Waktu menentukan akhir kisah..
Tentang malam dan cerita cinta ter larang....