- BATAS
Oleh: Elang Segara
-
Selamat pagi sayang, engkau masih sempat menyisihkan bening rasa pada
butiran embun, lalu menyimpannya di ceruk palung ruang kalbu. Aku sempat
mengintipnya dari sunyi paling sisih.
-
Pernah aku menemukan
senyum di pelataran hari, ketika engkau mengasuhnya dari fajar hingga
lembayung. Selanjutnya tuntun malam dari remang hingga gulita, lalu
menjadikannya selimut bagi gerombolan kabut di sudut socamu. Engkau
mendekapnya tanpa tangis, hanya sesekali isakmu terdesah dari perih.
Tapi senyum tetap sunting dari bibirmu pelangi. Ialah sempurna engkau
menitipkan lara pada sembunyi.
-
Waktu telah coba mengikismu
dari rindu. Agar engkau kembali kembang perawan serupa mula. Namun
engkau keikhlasan. Lara saja tak-kan cukup untuk membuatmu runtuh dari
kesetiaan utuh. Sebab hati kau namai sunyi jika rindu tiada paut. Dan
engkau tetap menunggu saat sua antara engkau--tambatan. Hingga cunduk
waktu.
-
Ah ... Hidup adalah teka teki, di mana banyak hal yang
tidak kita mengerti harus kita isi. Sementara aku ... menghilang sekian
warta agar engkau terbiasa, jika tiba batas waktu menjemputku 'tuk
tiada. Sebab aku ialah cerita hilang naskah. Ketika pendongeng lelah
tuturkan kisah, maka aku selesai sudah dari ada.
Aku ialah segulir
air mata, ceritaku rupa sebab, kesedihan Nak Perawan. Musim kasih yang
kuberi tak membuatnya bahagia. Hanya tembang tembang lara yang kudendang
di hatinya. Hingga aku serupa mantra pesakitan.
-
Aku telah
memberimu dunia kehilangan. Tapi aku masih sempat menjengukmu dari sunyi
paling pedih. Sesekali menitipkan airmata di beningnya rasa. Sambil
ratap paling lirih sebab laramu terbaca. Selanjutnya aku simak penantian
sekian panjang. Bahkan bisikmu kudengar saat kau tanyakan warta pada
musafir tua. Selebihnya kau hanya mampu menunggu sambil tabah.
Ah! Setiamu deritaku ... Kerna kurasakan jua rindu itu sama lara.
-
Selamat pagi sayang, embun masih serupa kemarin memucuk daun. Sementara
tangisanmu kau tutupi soca bintang dan senyuman pelangi. Namun aku
melihatnya di sudut sembunyi. Semalam aku bertanya pada Tuhan, perihal
yang harus aku lakukan, sebab aku tiada rela engkau lara. Aku telah
menemukan jawaban, sayang! Besok aku pulang untuk menjumpai dekapan,
mungkin kita akan sedikit terlibat keharuan. Setelahnya engkau tak-kan
lagi bertanya aku di mana.
Tunggu aku ya, sayang? Aku pasti pulang
berbusana kain kafan. Selanjutnya kita kan bersama lagi menyaksikan
purnama, walau dari alam berbeda.
***
Catatan:
Soca = Mata
*
Batas, Agustus 2015
•¤•¤•¤•¤•¤•¤•¤•¤
~~~~~~~~~~~~
•







