laman

KUMPULAN PUISI DAN SAJAK ERLANGGA BAYU SEGARA
KUMPULAN PUISI DAN SAJAK ERLANGGA BAYU SEGARA

Selasa, 18 Agustus 2015

- BATAS
Oleh: Elang Segara
-
Selamat pagi sayang, engkau masih sempat menyisihkan bening rasa pada butiran embun, lalu menyimpannya di ceruk palung ruang kalbu. Aku sempat mengintipnya dari sunyi paling sisih.
-
Pernah aku menemukan senyum di pelataran hari, ketika engkau mengasuhnya dari fajar hingga lembayung. Selanjutnya tuntun malam dari remang hingga gulita, lalu menjadikannya selimut bagi gerombolan kabut di sudut socamu. Engkau mendekapnya tanpa tangis, hanya sesekali isakmu terdesah dari perih. Tapi senyum tetap sunting dari bibirmu pelangi. Ialah sempurna engkau menitipkan lara pada sembunyi.
-
Waktu telah coba mengikismu dari rindu. Agar engkau kembali kembang perawan serupa mula. Namun engkau keikhlasan. Lara saja tak-kan cukup untuk membuatmu runtuh dari kesetiaan utuh. Sebab hati kau namai sunyi jika rindu tiada paut. Dan engkau tetap menunggu saat sua antara engkau--tambatan. Hingga cunduk waktu.
-
Ah ... Hidup adalah teka teki, di mana banyak hal yang tidak kita mengerti harus kita isi. Sementara aku ... menghilang sekian warta agar engkau terbiasa, jika tiba batas waktu menjemputku 'tuk tiada. Sebab aku ialah cerita hilang naskah. Ketika pendongeng lelah tuturkan kisah, maka aku selesai sudah dari ada.
Aku ialah segulir air mata, ceritaku rupa sebab, kesedihan Nak Perawan. Musim kasih yang kuberi tak membuatnya bahagia. Hanya tembang tembang lara yang kudendang di hatinya. Hingga aku serupa mantra pesakitan.
-
Aku telah memberimu dunia kehilangan. Tapi aku masih sempat menjengukmu dari sunyi paling pedih. Sesekali menitipkan airmata di beningnya rasa. Sambil ratap paling lirih sebab laramu terbaca. Selanjutnya aku simak penantian sekian panjang. Bahkan bisikmu kudengar saat kau tanyakan warta pada musafir tua. Selebihnya kau hanya mampu menunggu sambil tabah.
Ah! Setiamu deritaku ... Kerna kurasakan jua rindu itu sama lara.
-
Selamat pagi sayang, embun masih serupa kemarin memucuk daun. Sementara tangisanmu kau tutupi soca bintang dan senyuman pelangi. Namun aku melihatnya di sudut sembunyi. Semalam aku bertanya pada Tuhan, perihal yang harus aku lakukan, sebab aku tiada rela engkau lara. Aku telah menemukan jawaban, sayang! Besok aku pulang untuk menjumpai dekapan, mungkin kita akan sedikit terlibat keharuan. Setelahnya engkau tak-kan lagi bertanya aku di mana.
Tunggu aku ya, sayang? Aku pasti pulang berbusana kain kafan. Selanjutnya kita kan bersama lagi menyaksikan purnama, walau dari alam berbeda.
***
Catatan:
Soca = Mata
*
Batas, Agustus 2015
•¤•¤•¤•¤•¤•¤•¤•¤
~~~~~~~~~~~~